Friday, 27 July 2012

Korelasi Muka Teman-Teman dengan Makanan

This is a random post.

Di akhir minggu pertama puasa, aku mendapatkan satu poin pembelajaran:
kampus bukan tempat yang ideal untuk seorang Selly yang sedang berpuasa.
Pemahaman ini aku dapat setelah menghabiskan beberapa jam di siang bolong di kampus. Karena ada suatu keperluan, aku dengan rajinnya pergi ke kampus membawa perlengkapan full (laptop, kamera tanpa mmc (kebodohan!), dan charger). Lahan parkir ramai dengan mobil-mobil import, namun tidak begitu dengan isi kampus yang lengang. Di student center, tempat berkumpulnya manusia-manusia kampus A selain kelas, hanya terdapat segelintir teman terhitung tidak sampai melebihi jumlah jari tanganku. Hari ini memang sedang digelar pesta anatomi paket dua yang ketiga, pantas saja jika beberapa mobil yang tidak asing kulihat tadi. Well, pestanya belum selesai, I sat and had brief of random conversation with some people while waiting.
Seiring bergulirnya waktu, urusanku beres dan aku bersama beberapa koloni menjadi penunggu ABA. Obrolan tidak normal yang normal melantun dari mulut ke mulut, dan merangsang otakku untuk menyebut kata tabu yang ku tahan-tahan: "lapar."'
Your words can make you killed (disitasi dari The Alchemist), or hungry, in my case.
Biasanya, kata tersebut berakhir pada meja makan di manapun itu berada. Kali ini, ia hanya terngiang di kepala dan membuatku tenggelam dalam laut kelaparan. Hari ini adalah hari terlapar.
Ketemu temen-temen bikin aku pengen makan, karena ngeliat muka mereka langsung refers to "ayo makan"  dan langsung ngebayangin makanan deh ya.. Haha.

Well, I had a great evening though.
The Dark Knight Raises is flawless!

1 comment:

  1. Ketemu temen-temen bikin aku pengen makan, karena ngeliat muka mereka langsung refers to "ayo makan"  dan langsung ngebayangin makanan deh ya.. Haha.

    Ini bener bgt sel =))
    Aku barusan mengalaminya ^^

    ReplyDelete