Monday, 6 August 2012

FIKSI: UNTITLED YET.

Milky Way Over Mt. Bromo

Udara dingin memberdirikan rambut halus di sekujur tangan. Kulirik jam di sudut kamar, pukul setengah dua kurang sepuluh menit. Sudah hampir waktunya. Kugosok-gosok kedua telapak tanganku untuk menciptakan sedikit panas sebelum mengenakan blazer, kemudian menyambar postman bag yang sedari tadi telah dipersiapkan isinya. Siap!

Tidak sabar aku hingga tidak tahan menunggu di dalam ruangan. Aku keluar lantas duduk di tangga depan teras menunggu Pak No yang mempersiapkan perjalanan. Seperti yang sudah kuperkirakan, udara di luar minta ampun dinginnya. Berdasarkan googling, suhu malam di Bromo bisa mencapai tiga derajat celcius. Sedingin inikah tiga derajat? Siapa tahu, aku tidak bawa termometer.  Well, menengadah ke atas, udara dingin ini adalah harga yang tidak seberapa untuk melihat taburan bintang memanjakan indera penglihatanku. Dan, wah, kulihat ada rasi kesukaanku, rasi yang mudah ditemukan, crux. Rupanya malam ini, tidak hanya mataku yang dimanja, melainkan juga hatiku. Aku menyukai crux karena rasi itu menunjuk ke arah tempatnya berada, jauh di sana, di seberang samudra. Ah, sudah, aku harus mengabadikan kilauan bintang yang memayungiku.

"Non, jeepnya sudah siap." Suara Pak No menghentikanku menikmati langit dengan lensa ketiga. "Oh, iya, Pak. Ayo." kataku tersenyum, lantas bangkit, siap menempuh perjalanan ke puncak untuk melihat satu bintang lagi. Kujejalkan tanganku ke dalam kantong blazer, menahan dinginnya semilir angin, dan semilir rindu. "Beberapa tahun lagi, aku gantiin Pak No buat jagain kamu dan jadi travelling partnermu. Key? ;)" isi pesanmu beberapa jam yang lalu.

Anyway, aku belum nemu judul yang pas buat cerpen ini. Enaknya apa ya?

No comments:

Post a Comment